Memandang mereka dari sudut ini, sudut gelap dimana Evois memilih sendiri. Meskipun bingung mengapa ia sendiri, tp kupikir.. Sudah sifat alaminya ia penyendiri. Kesendirian berarti kemenangan mutlak atas apa yg ia rasa selama ini, kesedihan, keputusasaan, kemarahan...
Bencikah Evois pada mereka? Terkadang sangat..!! Sejauh pengawasannya tak ada yg benar2 menjadi "teman". Damn!! Mereka hanya setumpuk sampah. Sampah yg menusuk... ^.. 'Evois tersenyum pada pendapatnya ini, bahwa "sampah harus dilenyapkan". senyum ini tak berarti banyak, lebih terlihat jelas mencerminkan kegeraman hatinya daripada senyum manis. Pantas disebut seringai.. "Senyum dingin membunuh".
Tak puas dengan tersenyum, Evois pun tertawa.. Namun bukan tawa yg keluar dari mulutny, melainkan 'kikikan' tajam dan mengiris hati. Kikik yg dalam dan dingin, seolah ia ingin siapapun yg mendengar itu ikut merasakan kebencian hatinya.
Evois merasa senang oleh kemenangan atas apa yg ia pahami untuk membenci. Walau tak lebih dari sekedar napsu untuk membunuh... Ia puas atas pemikiran itu dan kembali terkikik dengan dingin.
Suara 'terkikik itu pun menjadi tak asing bagi mereka pada akhirnya... Karena suara itulah yg terakhir mereka dengar (Evois kembali terkikik, ia sangat suka bagian ini). Evois memandangi lagi tubuh kaku mereka dengan ekspresi khasnya. Mereka tak hanya tergeletak mati, namun mati dengan perasaan mencekam hingga sekalipun mereka mati, jiwa mereka tetap tersiksa untuk selamanya.
Tersiksa oleh trauma yg sangat mendalam. Inilah yg orang-orang katakan "hal yg lebih buruk dari kematian".
- Jiwa-jiwa mati yg merana
No comments:
Post a Comment