Wednesday, February 11, 2009

Fina Evoisdie - " Evois... "

Evois bangun dari tidur panjang yang melelahkan. Teringat akan mimpinya, di bukit yang gelap dan berkabut, Evois mengenakan gaun hitam kumal. Berjalan menyusuri jalanan gelap dan berbatu terjal. Terus mencari dalam kegelapan membuatnya bernostalgia akan masa lalunya yang juga sama pekatnya.
Apa yang ia cari sebenarnya bukanlah sesuatu yang nyata. Mimpinya adalah sebuah visualisasi jiwa, pencarian atas jati diri yang selama ini menggantung, mungkin selamanya.
Masih di ranjangnya yang berukuran kecil, hanya cukup untuknya. Dalam kamar gelap dan lembab, berjendela dengan tirai warna maroon lusuh. Angin pagi menyapanya dengan halus seakan berkata "cerialah Evois, ini pagi yang indah". Tak bergeming, Evois melihat keluar tembus dari tirai maroon transparan, ladang bunga matahari seolah tanpa batas.
Beranjak dari tempat tidur besi berkasur tipis, gadis berkulit putih pucat, bermata biru ini tampak seperti seseorang yang menghadiri pemakaman saudarinya. Tak tergaris sedikit pun senyum di wajahnya. Tatapan matanya hanya memandang kosong apapun yang ia lihat, lemah, sayu, dingin dan tampak kebencian yang tersamar dengan indah. Jelas bukan gambaran gadis periang penuh senyum yang sepanjang hari bernyanyi dan menari di hamparan ladang bunga. Dingin adalah kata yang tepat untuknya . . .

- to be continued . . .

No comments:

Post a Comment